Misteri Taman Gantung Babilonia, Benarkah Ada atau Hanya Dongeng Belaka?

Taman Gantung Babilonia adalah salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang sampai saat ini masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan.
Misteri Taman Gantung Babilonia, Benarkah Ada atau Hanya Dongeng Belaka.jpg

Taman Gantung Babilonia adalah salah satu Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Enam lainnya yang masuk dalam daftar Tujuh Keajaiban Dunia Kuno adalah Kuil Artemis, Patung Zeus, Piramida Giza, Mercusuar Iskandariyah, Mausoleum Mausolus dan Kolosus di Rodos.

Babilonia sendiri dikenal sebagai negeri/bangsa yang memiliki peradaban maju pada masanya. Taman Gantung Babilonia dipercaya sebagai salah satu mahakarya peninggalan bangsa yang satu ini. Namun, Taman Gantung Babilonia ini masih menyimpan banyak misteri yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar dari mulai lokasi pastinya, siapa pembuatnya sampai apakah tempat yang satu ini benar-benar pernah ada atau hanya sebatas dongeng belaka.

Taman Gantung Babilonia adalah satu-satunya dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang tidak meninggalkan jejak fisik sama sekali. Bahkan tidak ada dokumentasi dari sumber Babilonia tentang sebuah taman megah yang dibuat oleh bangsa ini. Dalam manuskrip kuno, taman ini pertama kali disebutkan oleh Berossus, seorang biarawan dari Kasdim yang hidup pada akhir abad 4 SM. Sejarawan dari Yunani seperti Strabo dan Diodorus Circulus kemudian melanjutkan tulisan tentang taman ini. Aneh memang, sejarah tertulis dari bangsa Babilonia justru tidak ada yang menyinggung taman ini, karena itulah semua informasi terkait Taman Gantung Babilonia sampai saat ini masih sebatas teori dan belum dipastikan kebenarannya. Hal ini kemudian menimbulkan kecurigaan bahwa taman gantung hanyalah sebuah legenda yang berasal dari cerita campuran tentang tanaman palem di Mesopotamia, ditambah dengan deskripsi istana Nebukadnezar II (raja yang diyakini membangun Taman Gantung Babilonia), hingga Ziggurats yang dikisahkan kembali oleh para tentara Alexander dari Yunani ketika kembali ke negerinya.

Teori paling umum yang dipercaya banyak orang terkait lokasi taman ini adalah di Al-Hillah, 50 kilometer selatan Baghdad, Irak di sebelah tebing timur Sungai Efrat. Taman ini kabarnya dibuat saat masa pemerintah Nebukadnezar II sekitar tahun 600 SM dimana Taman Gantung Babilonia dibuat sebagai hadiah untuk istri Nebukadnezar II yang bernama Amytis, sumber lainnya mengatakan namanya Amuhia. Ratu Amytis dikabarkan berasal dari Persia, negeri yang dipenuhi akan pepohonan serta rumput hijau yang begitu indah dan menyegarkan mata. Berbeda dengan Babilonia yang memiliki tanah datar, gersang, dan jarang sekali ditumbuhi tanaman membuat sang ratu begitu merindukan kampung halamannya. Karena itulah sang raja memutuskan membuat Taman Gantung Babilonia untuk mengobati rasa rindu istrinya yang merindukan kampung halamannya.

Nebukadnezzar II sendiri merupakan putra tertua dari Nabopolassar, pendiri dinasti Babilonia baru. Di bawah pemerintahannya, Babilonia mencapai puncak kejayaan dan menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia. Dalam catatan seorang penulis Yunani kuno yang bernama Herodotus, Raja Nebukadnezzar II telah menjadi Raja Babilonia pada sekitar 605-562 SM.

Arkeolog Sir Leonard Woolley menulis bahwa taman tidak dibangun dengan menggantung seperti terikat dengan tali, tapi dibangun secara vertikal menjulang ke atas dengan teras-teras besar. Luas taman ini diperkirakan 4 are (1 acre = 4046.86 m²). Wujud arsitekuralnya sangat unik, karena bertingkat-tingkat dan ditanami berbagai pepohonan indah. Dari puncak taman ini dapat disaksikan pemandangan di sekeliling Kerajaan Babilonia.

Taman gantung ini adalah bangunan bertingkat yang tingginya mencapai 40 meter. Pada saat itu belum banyak bangunan tinggi. Ketinggian 40 meter itu sudah terlihat sangat tinggi dan terlihat menggantung di langit. Selain itu, teknik pengairan yang digunakan kala itu terbilang cukup menakjubkan. Sistem pengairan Taman Gantung Babilonia dirancang agar air dapat menuju ke taman memberikan pasokan nutrisi kepada setiap tumbuhan yang ada disana. Mereka memanfaatkan pompa kincir raksasa yang berfungsi untuk mengambil air dari sungai Efrat dan menuangkan air tersebut di taman gantung.

Seperti yang dijelaskan di atas kalau semua informasi yang terkait Taman Gantung Babilonia sampai saat ini masih sebuah spekulasi, maka tak heran ada orang lain yang mengungkapkan informasi yang berbeda mengenai Taman Gantung Babilonia. Orang tersebut adalah Dr. Stephanie Dalley dari Somerville College yang merupakan bagian dari Oxford University. Dalam bukunya yang berjudul The Mystery of the Hanging Garden of Babylon, ia membantah semua informasi seperti lokasi dan pembuat Taman Gantung Babilonia yang diyakini kebanyakan orang. Dr. Stephanie mengatakan taman itu telah dibuat pada awal abad ke-7 SM di kawasan Niniwe, Irak, sekitar 300 mil dari Babilonia pada saat itu. Taman itu dibangun oleh orang Suria (Asyiria) di Mesopotamia Utara, yang kini merupakan wilayah Irak. Pembangunan taman itu merupakan perintah dari Raja Suria saat itu, Sennacherib. Dalley mendeskripsikan, taman gantung itu merupakan taman istana yang tiada bandingannya dan sangat dikagumi banyak orang.

Sebuah penggalian di dekat wilayah Nineveh menemukan saluran air dengan jejak tulisan yang menunjukkan kemasyhuran taman itu. Ia juga berpendapat, pemandangan Babilonia dan Niniwe mendukung kesimpulannya bahwa dengan karakter wilayah sekitar Babilonia yang datar, mustahil untuk menyalurkan air ke taman gantung sebagaimana yang digambarkan dalam sumber klasik.

Dr. Stephanie berpendapat lain terkait sumber klasik yang menyebutkan taman gantung dibangun oleh Raja Nebukadnezar II. Berdasarkan kajiannya, setelah orang Suria menaklukkan Babilonia pada 689 SM, ibukota Suria, Niniveh, dilihat orang saat itu sebagai Babilonia baru. Pemahaman ini ditakutkan menimbulkan kebingungan.

Sementara pada riset sebelumnya disebutkan setelah raja Sennacherib menaklukkan Babilonia, ia kemudian mengubah nama seluruh gerbang Niniwe.

Selain itu, ia yakin taman gantung itu kemungkinan sebenarnya telah digambarkan dalam relief istana Sennacherib di Niniveh. Pada relif itu digambarkan istana raja Sennacherib ditumbuhi pohon-pohon yang tertata rapi. Penelitian yang telah dilakukan bertahun-tahun itu bertujuan menemukan bukti kebun dan sistem saluran air serta kanal itu dibangun oleh Raja Sennacherib di Niniveh, bukan oleh Raja Nebukadnezar II di Babilonia.

Namun, tentu saja apa yang diungkapkan Dr. Stephanie tidak langsung dipercaya begitu saja. Sebagian masih meragukan pendapatnya karena kurangnya bukti yang ada. Salah satu yang tidak seuju dengan pendapat Dr. Stephanie adalah McGuire Gibson, profesor arkeologi Mesopotamia di University of Chicago Oriental Institute, yang mengutarakan bahwa ada sebuah lokasi di Babilonia yang memang cocok untuk taman gantung yakni di sebelah selatan Citadel. Dinding raksasa terdapat di sebelah kanan sungai. Ini merupakan tempat di mana memudahkan akses air.

Baca juga: Misteri Angkor Wat dan Peradaban Bangsa Khmer di Kamboja

Sama seperti pembuatannya, hancurnya Taman Gantung Babilonia juga masih menjadi misteri sampai saat ini. Sebagian arkeolog yang percaya bahwa taman ini pernah ada mengungkapkan kalau taman ini hancur karena perang dan erosi kemudian jejaknya hilang karena gempa bumi. Itulah penyebab kenapa bukti fisik dari mahakarya indah nan megah ini tak pernah ditemukan hingga saat ini.

Keywords: taman gantung babilonia saat ini, sejarah, adalah, kenapa disebut, dimana letak, gambar, lokasi, benarkah taman gantung babylonia pernah ada, apa itu, asli, sekarang, itu diciptakan sebagai, brainly, dibangun pada masa pemerintahan raja mesopotamia yang bernama, lama atau baru