Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jeffrey Dahmer, Pembunuh Berantai dan Kanibal dari Milwaukee

Jeffrey Dahmer, Pembunuh Berantai dan Kanibal dari Milwaukee.jpg

Jeffrey Dahmer yang memiliki nama panjang Jeffrey Lionel Dahmer adalah seorang kanibal, pembunuh berantai, pemerkosa, dan penderita kelainan nekrofilia (hasrat berhubungan seks dengan orang yang sudah mati). Jeffrey lahir pada 21 Mei 1960 di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Sekitar umur 8 tahun keluarganya pindah ke Bath, Ohio dan Jeffrey kecil sekolah di Revere High School. Sejak kecil, Jeffrey sering melakukan mutilasi pada binatang-binatang yang telah mati dan menjadi pemabuk pada masa remajanya. Di masa remaja juga Jeffrey mulai menunjukkan orientasi seksualnya yang merupakan seorang gay alias penyuka sesama jenis. Konon, sejak umur 14 tahun, fantasi-fantasi Jeffrey sudah mulai ganjil, antara lain membayangkan berhubungan intim dengan mayat.

Ibu Jeffrey, Joyce Annette, bekerja sebagai instruktur mesin teletip sementara ayahnya, Lionel Herbert Dahmer, adalah seorang mahasiswa di Marquette University dalam bidang kimia. Jeffrey harus menyaksikan orang tuanya bercerai di masa remaja. Ia juga kabarnya sempat menerima penganiayaan seksual dari tetangganya ketika berusia 8 tahun. Bisa dibilang masa kecil dan masa remaja Jeffrey itu suram. Menurut David, adik Jeffrey, kakaknya sering terlihat memukul-mukulkan ranting ke sebatang pohon dengan penuh kemarahan.

Setelah perceraian orang tuanya, Jeffrey tinggal bersama ibunya. Namun, suatu hari ibu dan adiknya meninggalkannya sendirian. Pada periode kehidupan inilah, tahun 1978, Jeffrey memulai debutnya sebagai pembunuh berantai. Korban pertamanya diduga adalah Steven Hicks, kawan sebayanya. Jeffrey suatu hari, memboncengnya pulang ke rumah. Ternyata, sang kawan diantar ke peristirahatan terakhirnya dengan sejumlah hantaman barbel. Jasadnya dirusak dengan palu. Jeffrey kemudian menguburkan mayat Steven di halaman belakang rumahnya. Pembunuhan atas Steven ini tidak diketahui siapapun hingga terungkap di persidangan dikemudian hari setelah Jeffrey tertangkap.

Enam tahun kemudian, Jeffrey tinggal dengan neneknya di sebuah apartemen di West Allis, pinggiran Milwaukke.

Sekitar tahun 1979 Jeffrey pernah masuk angkatan darat AS dan ditugaskan di Jerman pada awal 1980. Hanya setahun ia bertugas, ia dipecat karena ketahuan pemabuk berat dan diduga terlibat pembantaian dekat markas besar tentara AS di Jerman.

Sekembalinya ke Milwaukke, Jeffrey mencari nafkah sebagai pekerja giliran malam di pabrik cokelat Ambrosia. Ia juga kabarnya pernah bekerja di bank plasma darah sebelum bekerja di pabrik cokelat. Namun, ia hanya sebentar disana. Menurut Palermo yang juga staf di bank darah, pembunuh berantai itu tak punya keberanian menusukkan jarum suntik ke tubuh pasien. Mengejutkan bukan? Seorang manusia paling sadis di muka bumi bisa takut dengan jarum suntik, memang sulit mengerti pola pikir manusia seperti Jeffrey.

Dari tahun 1978 sampai 1991, Jeffrey diketahui sudah membunuh 17 pria dan remaja. Kebanyakan korban Jeffrey pasangan gay nya sendiri yang ia temui di bar khusus gay dan hampir semuanya adalah orang kulit hitam. Ia biasanya memberikan obat bius terlebih dahulu hingga si korban pingsan lalu mulai melakukan aksi biadabnya tersebut. Ia membunuh korbannya, menyetubuhi jasadnya, memutilasinya kemudian memakannya.

Jeffrey juga kabarnya membuat obat biusnya sendiri dan mencoba pada orang-orang yang ia temui di bar khusus gay. Di percobaan kelima ia baru berhasil membuat obat bius yang ia inginkan.

James Doxtator, remaja 14 tahun. Anak tanggung ini ditawari menjadi model foto telanjang dengan iming-iming uang oleh Jeffrey, James mengiyakan. Ia pun dibawa ke apartemen Jeffrey. Yang terjadi, remaja itu diperkosa. Sesudahnya, James dipaksa menenggak minuman yang telah dicampur obat bius. Ia pingsan. Jeffrey lalu memerkosa korbannya yang sudah menjadi mayat secara berulang-ulang di tempat yang tidak biasa, ia memerkosa korban nya di mulutnya, lubang matanya, dan luka di kerongkongan korban yang ia buat dengan menyayatkan pisau terlebih dulu. Setelah itu semuanya dilenyapkan dengan rapi.

Jeffrey punya cara pelenyapan mayat yang sistematis. Dimulai dengan memperkecil ukuran (mutilasi), lalu merendamnya dalam larutan asam untuk melunakkan tulang-tulangnya. Setelah itu, ia tinggal memasukkannya ke dalam toilet. Namun, Jeffrey punya gagasan yang lebih gila dengan memakan daging korbannya. Salah satu korbannya yang ia makan adalah Oliver Lacy. Jeffrey membunuh Oliver yang berusia 23 tahun itu pada 12 Juli 1991.

Kelakuan laknat Jeffrey sempat berhenti untuk sementara ketika Jeffrey ditangkap pada 1989. Bukan karena pembunuhan, tapi penganiayaan terhadap seorang anak 13 tahun. Sanksinya, ia diharuskan masuk pusat rehabilitasi Milwaukee selama 1 tahun. Setelah hukuman itu lewat, Jeffrey melanjutkan aksi pembunuhan berantainya.

Jeffrey ditangkap pada 22 Juli 1991 setelah aksinya terungkap saat salah seorang korbannya berhasil melarikan diri dan melapor ke kantor polisi. Tracy Edwards, sang korban, berlari dijalanan dengan tangan terborgol. Tracy mengatakan bahwa dirinya disekap di apartemen milik Jeffrey yang mengancam akan membunuhnya. Meski semula polisi meragukan keterangan Tracy, mereka kemudian membawa pria itu kembali ke apartemen Jeffrey. Saat ditemui polisi, Jeffrey mengatakan semua insiden dengan Tracy hanyalah sebuah kesalah pahaman dan dia hampir berhasil mengelabui polisi sebelum polisi melihat beberapa foto polaroid yang menunjukkan potongan-potongan tubuh manusia. Jeffrey pun ditahan.

Ketika apartemen Jeffrey digeledah, sebuah pemandangan mengerikan nampak di sana. Selain foto-foto yang penuh dengan gambar bagian tubuh, apartemen itu penuh dengan sisa-sisa jasad manusia. Beberapa kepala dan jantung manusia berada di kulkas, dua tengkorak berada di atas komputer, dan ditemukan sebuah drum berukuran 57 galon yang berisi beberapa jasad busuk di dalam bahan kimia di sudut kamar tidur, diduga digunakan untuk melarutkan daging manusia. Tengkorak dan tulang berserakan di kamar mandi dan lemari. Ada juga bukti yang menunjukkan bahwa Jeffrey telah memakan beberapa korbannya seperti sebuah panci untuk merebus bagian kepala agar gampang dikuliti. Para tetangga memang mengaku pada polisi kalau sering mencium aroma busuk dari apartemen Jeffrey namun Jeffrey beralasan kalau itu dari bau daging yang busuk. Saat mengumpulkan barang bukti lainnya untuk kasus Jeffrey, polisi menemukan tak kurang dari 100 potong tulang Steven Hicks, korban pertamanya.

Yang miris dari kasus Jeffrey ini sebenarnya polisi bisa menangkap Jeffrey lebih awal. Dua bulan sebelumnya polisi menerima panggilan bahwa seorang remaja 14 tahun tampak dikejar seseorang di lorong apartemen. Saat si remaja bertemu polisi, Jeffrey datang dan mengaku sebagai kekasih si remaja dan mereka sedang terlibat pertengkaran biasa sebagai sepasang kekasih. Bodohnya, para polisi mempercayai Jeffrey dan membiarkan Jeffrey membawanya ke apartemennya untuk dibunuh. Setelah semuanya terungkap, para polisi yang membiarkan hal itu terjadi kehilangan pekerjaannya.

Pemeriksaan menyimpulkan setidaknya ada 11 korban yang dibunuh di apartemen Jeffrey, dengan korban pertama dibunuh pada Maret 1989. Jeffrey kemudian mengaku telah melakukan total 17 pembunuhan sejak tahun 1978. Ia kemudian mendapat julukan "Milwaukee Cannibal" dan "Milwaukee Monster".

5 psikiater, 2 psikolog, dan 2 detektif polisi dikerahkan untuk mengungkap latar belakang kejiwaan Jeffrey. Mereka secara bersama mewawancarai Jeffrey selama 130 jam. Hasilnya diungkapkan dalam sanity trial yakni sidang untuk membuktikan tingkat kewarasan pelaku kejahatan. Sidang inilah yang menentukan apakah Jeffrey dihukum atau dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, yang memungkingkan ia suatu waktu bebas. Dua psikiater berpendapat nekrofilia dan memakan orang adalah bukti sakit mental yang mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Ini pula inti pembelaan Gerald Boyle, penasihat hukum Jeffrey yang bertugas membela terdakwa. "Tindakan menyetubuhi mayat dan memakan daging sesama hanya dapat dilakukan oleh orang sakit jiwa,“ kata pembela.

Tapi dikubu lain, Dr. George Palermo yakin bahwa Jeffrey seorang yang kompulsif, anti sosial yang membunuh karena desakan nafsu birahi. Tapi ia tidak gila. Pernyataan ini diperkuat seorang jaksa penuntut yang menyebutkan Jeffrey punya perhitungan cermat. Misalnya menggunakan obat bius untuk membuat korbannya tak berdaya.

Normal atau tidak, Jeffrey seorang manusia dari jenis yang sangat tidak biasa. Ketika ditangkap, Jeffrey tak secuil pun menunjukkan perubahan emosi sewaktu membeberkan rangkaian kejahatannya. "Ia berbicara soal membunuh orang seperti menuang air dalam gelas,“ kata wakil polisi wilayah West Allis, Robert Due.

Di pengadilan banyak perdebatan mengenai hukuman Jeffrey namun akhirnya pada 17 Januari 1992 Jeffrey didakwa atas 15 pembunuhan, meskipun sebenarnya ia melakukan 17 kali pembunuhan, ia pun harus menerima hukuman seumur hidup tanpa amnesti. Ia menerima hukuman tersebut setelah hakim menolak klaim tim pengacara yang menyebut pelaku dalam kondisi gangguan kejiwaan. Hakim tidak percaya atas klaim tersebut. Pada umumnya, pelaku aksi kanibalisme di Amerika akan dikenakan hukuman mati. Namun lantaran Pemerintah Negara Bagian Wisconsin termasuk salah satu wilayah yang tidak melakukan eksekusi mati terhadap pelaku kejahatan, maka Jeffrey terhindar dari hukuman mati.

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Jeffrey termasuk ke dalam kategori luar biasa dan paling mengerikan sepanjang sejarah kasus di Amerika Serikat. Dalam pembacaan putusan vonis, hakim juga menjelaskan proses Jeffrey membunuh para korbannya. Disebutkan bahwa pelaku membius korban dan menusuk kepala untuk mengambil bagian otak korban. Menurut pengacara, Jeffrey menderita nekrofilia, kelainan yang membuat seseorang ingin berhubungan badan dengan mayat. Namun menurut jaksa, Jeffrey tidak menderita kelainan tersebut, karena ia secara waras bisa menentukan siapa korban.

Menanggapi vonis yang dibacakan hakim, Jeffrey mengatakan bahwa dirinya tidak menuntut kebebasan. "Sungguh, saya hanya ingin mati. Saya tahu, saya sakit jiwa dan kesetanan, dan saya adalah kedua-duanya, perpaduan sakit jiwa dan kesetanan. Dokter sudah bilang bahwa saya sakit jiwa dan sekarang saya sudah merasa damai. Saya tahu dampak yang diakibatkan atas perbuatan saya dan merasa sangat menyesal," ujar Jeffrey.

Sedangkan pihak keluarga korban yang hadir di persidangan, mengecam keras Jeffrey. Bagi mereka, hukuman seumur hidup tidak setimpal dengan perbuatan sadisnya.

Ia meninggal dibunuh di penjara Columbia Correctional Institution, Portage, Wisconsin, oleh sesama narapidana, Christopher Scarver, pada 28 November 1994. Setelah diselidiki, ternyata Christopher tidak mengetahui soal kasus Jeffrey, dan iapun tidak memiliki masalah apa-apa dengannya. Ia hanya berkata bahwa ia mendapat panggilan dari Tuhan untuk membunuh pria itu. Bulu kuduknya selalu berdiri ketika berada di dekat Jeffrey, dan Ia mendapat firasat bahwa ia harus menghabisinya sesegera mungkin. "Dia berbeda dengan orang lain. Saat jam makan kadang aku melihatnya bermain dengan makanannya seperti organ tubuh manusia dan saus sebagai darah. Beberapa orang yang dipenjara memang pembunuh, tetapi aku tahu dia berbeda," kata Christopher.

Referensi:
www.wikipedia.org
https://news.okezone.com/
https://male.co.id/
http://www.suffieldtimes.com/
https://m.liputan6.com/
https://m.kumparan.com/
http://duniamenyeramkan.blogspot.com/
http://www.astrodigi.com/

Tags: Jeffrey Dahmer Adalah, Wikipedia Indonesia, Kematian, Kisah, Cerita, Siapa?, Apartemen, Film, Kanibal, Full Movie, Orang Tua, Kasus, Buku, Serial Killer

Posting Komentar untuk "Jeffrey Dahmer, Pembunuh Berantai dan Kanibal dari Milwaukee"