Misteri Gunung Kawi, Tempat Pesugihan untuk Mendapatkan Kekayaan

Gunung Kawi kabarnya menjadi tempat pesugihan yang terkenal karena beberapa konglomerat juga katanya pernah berkunjung ke tempat ini.
Misteri Gunung Kawi, Tempat Pesugihan untuk Mendapatkan Kekayaan.jpg

Berbicara tentang gunung ada dua hal menarik yang biasa kita bahas, khususnya sebagai orang Indonesia, yaitu panorama alam yang indah serta misteri-misteri dan mitos tentang gunung tersebut. Indonesia yang masyarakatnya masih terasa dekat dengan hal-hal seperti itu, rasanya tak pernah kehabisan cerita kalau soal hal-hal mistis.

Salah satu gunung yang memiliki cerita misteri adalah Gunung Kawi yang ada di Kepanjen, Malang. Gunung yang satu ini selain dikenal karena alamnya yang indah juga terkenal karena kabar adanya aktivitas pesugihan di gunung ini. Di sini terdapat berbagai situs mulai dari pesarean, keraton, klenteng, serta tempat pemujaan situs-situs lainnya.

Salah satu mitos terkenal yang ada di Gunung Kawi adalah Pohon Dewandaru atau Pohon Kesabaran yang terletak di daerah pemakaman. Konon katanya pohon ini merupakan perwujudan dari tongkat Eyang Soedjoego. Dari kabar yang beredar, bagian Pohon Dewandaru yang jatuh entah itu daun atau rantingnya jika disimpan akan mendatangkan keberuntungan khususnya dalam bidang ekonomi orang yang menyimpannya. Tapi, seperti namanya, butuh kesabaran untuk menunggu ada bagian Pohon Dewandaru yang jatuh, bahkan bisa berbulan-bulan lamanya.

Jika suatau tempat dikenal sebagai tempat pesugihan, biasanya ada makhluk gain yang mendiami tempat tersebut atau ada makam orang-orang terkenal pada masa dulu. Di pemakaman Gunung Kawi memang ada makam Kanjeng Kyai Zakaria II atau juga dikenal sebagai Eyang Djoego.

Dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1830, sebagian pengikutnya melarikan diri ke Jawa Timur. Kyai Zakaria II yang menjadi penasihat spiritual Pangeran Diponegoro mengganti namanya menjadi Eyang Soedjoego atau Eyang Djoego. Ia mengungsi ke timur melewati berbagai tempat seperti Pati, Bagelen, Tuban, Kepanjen, hingga akhirnya tiba di Desa Jugo, Kesamben, Blitar sekitar tahun 1840. Ia mendiami suatu dusun yang selanjutnya dikenal sebagai Dusun Jugo (Djoego). Sekitar satu dekade pertama, Eyang Djoego membuka padepokan dan menerima murid yang salah satu diantaranya menjadi putera angkatnya, yaitu Raden Mas Jonet atau Raden Mas Iman Soedjono (Eyang Soedjo) yang merupakan salah satu senapati Pangeran Diponegoro. Pada dekade kedua, Ki Moeridun dari Warungasem, Pekalongan datang menjadi murid R.M. Iman Soedjono.

Eyang Djoego kemudian memerintahkan R.M. Iman Soedjono dan Ki Moeridun untuk membuka hutan di sebelah selatan Gunung Kawi dan berpesan bahwa ia ingin dimakamkan di sana. Ia juga meramalkan bahwa desa yang akan dibuka tersebut akan ramai serta menjadi tempat pengungsian. Murid-murid Eyang Djoego yang berangkat berjumlah sekitar 40 orang yang diantaranya beretnis Tionghoa. Rombongan dipimpin oleh Mbah Wonosari diiringi 20 orang pengikut dan membawa dua pusaka bernama Kudi Caluk dan Kudi Pecok. Selama perjalanan, rombongan mengalami berbagai peristiwa yang menyebabkan terjadinya pemberian nama berbagai tempat.

- Lokasi ditemukan batu yang dikerumuni semut hingga tumpang tindih menjadi Tumpang Rejo.
- Lokasi pembuatan perapian (Jawa; pawon) dekat pohon Loa Gondang yang tumbuh dekat tanjakan menjadi Dusun Lopawon.
- Lokasi ditemukan gendok (sejenis panci) tembaga menjadi Dusun Gendogo.
- Lokasi ditemukan pohon Bulu yang tumbuh sejajar dengan pohon Nangka dinamai Buluangko (kini Hutan Blangko).
- Lokasi tempat menginap di atas gumuk (bukit kecil) ditanami dua buah kelapa, salah satunya tumbuh bercabang dua sehingga dinamai Klopopang (Jawa = klopo ["kelapa"] dan pang ["bercabang"]).

Dari Klopopang, rombongan membuka hutan ke arah selatan, kemudian ke timur, dan dilanjutkan ke utara hingga Kali Gedong, kemudian ke barat. Para peserta rombongan masing-masing membangun rumah dan sebuah padepokan. Pada padepokan tersebut, semua peserta rombongan berunding untuk memberi nama tempat yang baru saja mereka buka hingga akhirnya disepakati nama Wonosari sesuai nama pemimpin rombongan. Mereka mengutus salah satu pengikut untuk memberi tahu Eyang Djoego bahwa pekerjaan mereka telah selesai. Eyang Djoego berangkat ke Wonosari kemudian memberi petunjuk siapa saja yang menetap dan siapa yang pulang ke Dusun Jugo. Ia juga memberi pesan bahwa ia ingin dimakamkan di atas sebuah gumuk (bukit kecil) yang diberi nama Gumuk Gajah Mungkur. Di antara padepokan dan Gumuk Gajah Mungkur, mereka membuat sebuah taman sari (kini dibangun Masjid Agung Iman Soedjono). Eyang Doejogo sendiri kembali ke Dusun Jugo sementara R.M. Iman Soedjono ditugaskan untuk tinggal.

Eyang Djoego wafat pada hari Senin Pahing, 1 Selo 1817 M (22 Januari 1871). Jenazahnya diberangkatkan dari Dusun Jugo dan di Gumuk Gajah Mungkur pada hari Rabu Wage. Karena sudah malam, jenasah Eyang Jugo dimakamkan pada hari Kamis Kliwon pagi. Oleh sebab itu, setiap hari Senin Pahing diadakan selamatan dan bila bertepatan dengan bulan Selo, peserta selamatan adalah seluruh penduduk desa. Selamatan tersebut dikenal dengan nama Barikan.

Desa Wonosari semakin ramai didatangi orang-orang yang bermaksud menetap. Sekitar tahun 1871-1876, seorang putri Residen Kediri bernama Ny. Schuller datang untuk berobat ke R.M. Iman Soedjono hingga sembuh. Ia tidak pulang lagi ke Kediri hingga R.M. Iman Soedjono wafat pada hari Rabu Kliwon tahun 1876 M (8 Februari 1876). R.M. Iman Soedjono dimakamkan satu liang dengan Eyang Djoego.

Sebenarnya, sejak dulu Gunung Kawi kerap menjadi tempat pertapaan bukan hanya untuk orang biasa tapi juga untuk para raja. Salah satu yang paling terkenal adalah Prabu Kameswara.

Prabu Kameswara diyakini bertapa di sebuah keraton yang berada di ketinggian 700 meter dan memiliki jarak tempuh setengah jam dari pemakaman Eyang Soedjogo. Mpu sindok yang berasal dari kerajaan Mataram adalah seseorang yang mendirikan Kraton Gunung Kawi. Berdasarkan dari prasasti batu tulis di puncak Gunung Kawi menjelaskan bahwa Kraton Gunung Kawi dibangun pada tahun 861 Masehi. Dari cerita yang beredar, setelah sang Prabu selesai bertapa di tempat itu, beliau berhasil menyelesaikan kekacauan politik di kerajaannya. Berdasarkan legenda tersebut, petilasan itu banyak digunakan sebagai praktik pemujaan bahkan pesugihan.

Ada sebuah cerita yang katanya pendiri perusahaan rokok Bentoel Group yakni Ong Hok Liong pernah datang ke Gunung Kawi saat keadaan ekonominya sulit. Malam harinya ia bermimpi melihat bentul. Penasaran dengan mimipinya itu, ia kemudian menanyakan arti mimpinya pada juru kunci gunung dan sang juru kunci mengatakan kalau ia harus merubah merk rokoknya menjadi Bentoel. Ong Hok Liong kemudian melakukan perintah tersebut dan sampai kini Bentoel Group masih berdiri sebagai salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia.

Selain pendiri Bentoel Group, salah satu pendiri BCA juga pernah datang ke Gunung Kawi. Namun, baik kabar tentang pendiri Bentoel Group maupun pendiri BCA semuanya belum dapat dipastikan kebenarannya dan masih sebatas rumor.

Yang namanya pesugihan biasanya identik dengan tumbal, pun begitu dengan praktik pesugihan di Gunung Kawi. Setelah melewati satu tahun, pelaku pesugihan biasanya akan mulai mangalami peningkatan kualitas dan kuantitas ekonomi dalam kehidupannya. Ketika waktu itu terjadi, ia mulai harus menyerahkan tumbal yang berupa seorang manusia yang memiliki hubungan darah dengannya untuk dijadikan sebagai salah satu pesuruh kerajaan gaib di Gunung Kawi. Seseorang yang ditunjuk untuk menjadi tumbal tersebut biasanya mati tanpa diduga-duga secara tiba-tiba. Selain itu, setiap kali diberikannya tumbal, kekayaan pemilik tumbal biasanya akan meningkat secara drastis.

Di Gunung Kawi juga kerap diadakan acara wayang kulit bahkan jika tidak ada penonton sekalipun acara wayang kulit tersebut akan tetap digelar. Acara wayang kulit itu tujuannya memang bukan untuk mencari penonton tapi diadakan oleh orang-orang yang do'anya terkabul ketika berdo'a di Gunung Kawi. Biaya untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit di Gunung Kawi dibanderol sekitar Rp3,5 juta setiap satu kali pentas. Dalam sehari, kadang kala ada beberapa kali pementasan wayang kulit. Untuk acara wayang kulit ini mungkin berbeda dengan pesugihan yang meminta tumbal seperti yang dijelaskan di atas, mungkin ini untuk orang-orang yang datang hanya berdo'a saja di pemakaman tanpa melakukan ritual-ritual tertentu. Acara pementasan wayang sendiri mungkin hanya sebagai pelunasan janji jika do'a terkabul.

Melakukan pesugihan atau meminta sesuatu bukan pada Allah SWT itu adalah perbuatan dosa. Lagi pula, melakukan pesugihan itu layaknya menggunakan cheat kalau dalam video game, biasanya setelah menggunakan cheat cepat atau lambat permainan tidak akan seru lagi, nah mungkin juga hidup kalian akan seperti itu jika melakukan pesugihan, tanpa tantangan, tanpa keseruan, hidup macam apa itu? Analogi yang aneh ya, hehe, intinya melakukan pesugihan itu tidak baik dan juga dilarang oleh agama.

Keywords: video misteri gunung kawi, misteri keraton gunung kawi, misteri pendakian gunung kawi, youtube, misteri gunung kawi full movie, Misteri Gunung Kawi