Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Review dan Sinopsis Film Antlers (2021)

Review dan Sinopsis Film Antlers (2021).jpg

Trailer

Gambar

Sinopsis

Julia Meadows adalah seorang guru di sekolah dasar yang dulu pernah mengalami kekerasan. Ia kemudian melihat murid bernama Lucas Weaver yang sepertinya mengalami hal serupa seperti yang dialami Julia dulu. Merasa peduli, Julia mulai memberikan perhatian lebih pada Lucas namun ternyata Lucas menyimpan sebuah rahasia mengerikan tentang kondisi ayahnya yang sangat berbahaya.

Review

Perhatian, review mungkin mengandung spoiler!

"Antlers" adalah sebuah film horor dan misteri yang disutradarai oleh Scott Cooper, dimana ia juga merangkap sebagai penulis naskah skenarionya bersama Henry Chaisson dan Nick Antosca. Scott Cooper ini sudah sering menjadi sutradara dan penulis di beberapa film, namun saya belum pernah melihat film yang ia sutradarai maupun yang ia tulis naskah ceritanya, "Antlers" adalah film pertama dari pria kelahiran 1970 ini yang saya tonton. Menariknya, di jajaran produsernya ada Guillermo del Toro dan David S. Goyer. Kedua nama tersebut adalah nama yang populer di dunia perfilman. Del Toro adalah filmmaker yang membuat genre dark fantasy mulai dikenal luas sementara Goyer lebih sering terlibat di bagian penulisan, ia pernah menjadi penulis skenario beberapa film superhero terkenal seperti trilogi "Dark Knight"-nya Christopher Nolan, "Man of Steel", dan "Batman v Superman: Dawn of Justice". Sementara untuk para pemainnya ada Keri Russell sebagai Julia Meadows, Jesse Plemons sebagai Paul Meadows, Jeremy T. Thomas sebagai Lucas Weaver, Graham Greene sebagai Warren Stokes, Scott Haze sebagai Frank Weaver, Rory Cochrane sebagai Dan Lecroy, dan Amy Madigan sebagai Ellen Booth.

Film "Antlers" ini mengadaptasi cerita pendek berjudul "The Quiet Boy" karya Nick Antosca yang dipublikasikan di majalah Guernica pada Januari 2019.

"Antlers" sebenarnya sudah menyelesaikan proses syuting sejak November 2018 namun perilisannya sendiri sempat tertunda karena adanya pandemi virus corona. "Antlers" kemudian melakukan penayangan perdananya di Beyond Fest pada 11 Oktober 2021 lalu dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 29 Oktober 2021. Film ini baru dirilis secara resmi di Indonesia pada 26 Januari 2022. Film yang diproduksi oleh Fox Searchlight Pictures, Phantom Four Films, Double Dare You (DDY), dan Mirada Studio ini mendapatkan pendapatan sekitar $18 juta dari seluruh dunia.

Di IMDb, "Antlers" mendapatkan rating 5,9/10 dari sekitar 33 ribu ulasan sementara di Metacritic mendapatkan 57 dari sekitar 33 ulasan dan di Rotten Tomatoes mendapatkan 60% Tomatometer dari 176 ulasan. "Antlers" berhasil menjadi nominasi dalam kategori Best Horror Film pada ajang HFCS Award/Hawaii Film Critics Society.

Cerita film ini cukup menarik, mengangkat makhluk kanibal dari mitologi cerita rakyat di Amerika Serikat sana yang bernama Wendigo. "Antlers" bukanlah film pertama yang mengangkat sang makhluk ke dunia perfilman, pada 2001 sebuah film berjudul "Wendigo" juga pernah dirilis.

Sayangnya menurut saya teror yang disajikan sang makhluk mengerikan tersebut terasa kurang, apalagi jika kita membahas motifnya yang sangat tidak jelas. Apa tujuan Wendigo melakukan penyerangan demi penyerangan kurang masuk akal. Memang beberapa penyerangan diakibatkan dari si korban mendekati Wendigo itu sendiri tapi tujuan awal si Wendigo muncul dan mengacau di lokasi masyarakat sekitar masih kurang jelas. Atau saya yang mungkin kelewatan beberapa bagian di film ini.

Dengan durasi sekitar 1 jam 39 menit, "Antlers" mencoba menyampaikan beberapa penjelasan dengan terburu-buru.

"Antlers" masih menyimpan penyakit lama untuk film sejenis ini yaitu tindakan karakter yang kadang gegabah dan terlalu nekat. Ya, banyak film-film sejenis yang melakukan hal serupa demi tercapainya plot yang menegangkan namun di lain sisi kurang masuk akal. Jangan lupakan juga pertarungan akhir antara si Wendigo dan Julia yang akan membuat kita sedikit geleng-geleng kepala. Wendigo yang diceritakan setinggi dua meter dan mampu membunuh beruang bahkan kita diperlihatkan bagaimana mudahnya ia membunuh para korbannya tiba-tiba di-nerf habis-habisan di final battle-nya.

Di akhir terlihat si Wendigo ini mencari inang baru atau lebih tepatnya sudah mendapatkan inang baru tapi bagaimana cara si Wendigo ini memilih inangnya tidak diperlihatkan atau dijelaskan, apakah ia memilih inangnya secara acak saja? Banyak hal tentang makhluk ini di film "Antlers" yang saya rasa penjelasannya agak tanggung.

Jeremy T. Thomas disini bermain dengan sangat baik memerankan karakter Lucas. Ia berhasil menampilkan bocah tak terurus dengan sangat meyakinkan. Tubuhnya yang kurus kering membuat ia tampil optimal di film ini. Saya tidak tahu apakah ia menguruskan badannya untuk penampilannya di film ini atau memang dia sudah kurus.

Akting pemain lainnya menurut saya biasa-biasa saja, setidaknya lumayan tidak buruk.

FYI, untuk Jesse Plemons ini adalah kali ketiga ia memainkan karakter seorang sheriff, ia pernah memainkan karakter serupa di "American Made" dan "Game Night".

Meskipun saya bilang teror yang diberikan si Wendigo ini terasa kurang dimaksimalkan tapi aspek lain menjadi sumber kengerian film ini apalagi di awal-awal film saat kita sebagai penonton masih diselimuti banyak tanda tanya. "Antlers" masuk dalam kategori film yang tidak boleh kalian tonton sambil makan karena visualnya yang disturbing parah dan juga sangat eksplisit. Sinematografer Florian Hoffmeister berhasil memberikan kengerian lewat pengambilan gambar dengan vibe yang dingin serta kecerahan yang terasa kurang. Bagaimana visual kota tempat tinggal Lucas ini digambarkan terasa memberikan teror tersendiri, bahkan jika penampakan Wendigo tidak ditampilkan diawal sekalipun, kita bisa merasakan bahwa ada suatu teror dan ancaman di kota tersebut.

Lokasi kota pengambilan gambar film "Antlers" ini sendiri adalah kota yang sama yang menjadi tempat syuting film "Rambo First Blood".

Penampakan Wendigo secara utuh di film ini sendiri cukup jarang, hanya di bagian akhir kita bisa melihat tampilan Wendigo dengan utuh. Tampilan Wendigo sendiri menurut saya khas monster-monster mitologi di Amerika sana. cukup menakutkan namun bukan monster paling mengerikan yang pernah saya lihat di dunia perfilman. Legacy Effects adalah perusahaan yang mengurus bagian practical effect tampilan Wendigo ini.

Untuk scoring musiknya terbilang lumayan, meskipun tidak terlalu spesial atau memberikan efek kengerian tapi karena dibarengi visual ciamik yang memberikan kesang ngeri, scoring-nya jadi terasa bekerja dengan baik.

Overall, "Antlers" adalah sebuah film yang bisa memberikan kengerian lewat visual dan vibe yang dibawanya namun secara kualitas cerita film ini masih terkesan nanggung dan memiliki kekurangan disana-sini. Penampilan Jeremy J. Thomas di film ini sebagai Lucas rasanya layak diapresiasi.

Rating; 6/10

Untuk kalian yang suka menonton film di ponsel smartphone, tentu kalian membutuhkan earphone/headset dengan kualitas yang mamadai agar pengalaman menonton kalian semakin maksimal. Cek link di bawah ini untuk melihat rekomendasi earphone/headset terbaik dengan harga yang murah!
- Rekomendasi Headset/Earphone Terbaik & Termurah Untuk Ponsel

Referensi:
https://cineverse.id/
https://m.imdb.com/
https://en.m.wikipedia.org/
https://www.rottentomatoes.com/

Keywords: Review & Ulasan Sinopsis Alur Cerita Film Antlers (2021), Informasi Lengkap, Daftar Pemain Kru, Fakta Unik, Trivia, Penghargaan, Full Movie Download Subtitle Bahasa Indonesia, Bluray, Mp4, Mkv, Avi, DVDRip, HD, IMDb, Wikipedia, Rotten Tomatoes, Review, Ulasan, Rating, Nilai, Plot, Sub Indo, Nonton Online Streaming, Trailer, LK21, Pahe, HBO Max Go, Netflix, Disney Plus Hotstar

Posting Komentar untuk "Review dan Sinopsis Film Antlers (2021)"

close